Minggu, 25 Mei 2008

flora dan fauna kalimantan

Coelogyne Pandurata

Dikenal dengan nama Anggrek Hitam atau Black Orchid, karena pada lidahnya terdapat warna hitam. Coelogyne pandurata Lindley tersebar di Malaysia, Sumatra, Kalimantan dan di Philipina di Mindanao, Luzon dan pulau Samar. Pada umumnya tumbuh pada pohon tua, didekat pantai atau di daerah rawa dataran rendah yang cukup panas.



Coelogyne Pandurata



Keadaan tanah, iklim, dan ketinggian tempat menyebabkan perbedaan tipe vegetasi di Papua. Umumnya pada hutan hujan dataran rendah tipe vegetasi lebih beragam dibandingkan dengan kondisi lainnya.

Daerah yang terbesar di antaranya adalah di Kalimantan dan Papua. Hutan hujan pegunungan menyebabkan tempat ini basah setiap tahunnya sehingga tidak memberikan kesempatan untuk tumbuhan jenis lain beradaptasi.

Ketika Media dan Tim Ekspedisi Metro TV ke bumi Papua, hujan kerap turun di sana. Cuaca sering berubah-ubah. Berdasarkan literatur yang Media peroleh jahe merah menyala tapeinocheilos pungens merupakan salah satu jenis tumbuhan yang dapat ditemukan pada hutan (bagian terendah) di Papua.

Masih di tempat yang sama, suatu jenis tumbuhan merambat yang dikenal dengan bunga Irian (mucuna bennettii) bertebaran di mana-mana. Tanaman bakau merupakan tumbuhan yang tidak asing lagi ditemui di sepanjang pantai di Papua. Di dunia, Indonesia merupakan habitat terkaya dari berbagai jenis bakau.


FLORA MANGROVE

Flora mangrove terdiri atas pohon, epipit, liana, alga, bakteri dan fungi. Menurut Hutching dan Saenger (1987) telah diketahui lebih dari 20 famili flora mangrove dunia yang terdiri dari 30 genus dan lebih kurang 80 spesies. Sedangkan jenis-jenis tumbuhan yang ditemukan di hutan mangrove Indonesia adalah sekitar 89 jenis, yang terdiri atas 35 jenis pohon, 5 jenis terna, 9 jenis perdu, 9 jenis liana, 29 jenis epifit dan 2 jenis parasit (Soemodihardjo et al, 1993).

Tomlinson (1986) membagi flora mangrove menjadi tiga kelompok, yakni :

  1. Flora mangrove mayor (flora mangrove sebenarnya), yakni flora yang menunjukkan kesetiaan terhadap habitat mangrove, berkemampuan membentuk tegakan murni dan secara dominan mencirikan struktur komunitas, secara morfologi mempunyai bentuk-bentuk adaptif khusus (bentuk akar dan viviparitas) terhadap lingkungan mangrove, dan mempunyai mekanisme fisiologis dalam mengontrol garam. Contohnya adalah Avicennia, Rhizophora, Bruguiera, Ceriops, Kandelia, Sonneratia, Lumnitzera, Laguncularia dan Nypa.
  2. Flora mangrove minor, yakni flora mangrove yang tidak mampu membentuk tegakan murni, sehingga secara morfologis tidak berperan dominan dalam struktur komunitas, contoh : Excoecaria, Xylocarpus, Heritiera, Aegiceras. Aegialitis, Acrostichum, Camptostemon, Scyphiphora, Pemphis, Osbornia dan Pelliciera.
  1. Asosiasi mangrove, contohnya adalah Cerbera, Acanthus, Derris, Hibiscus, Calamus, dan lain-lain.

Flora mangrove umumnya di lapangan tumbuh membentuk zonasi mulai dari pinggir pantai sampai pedalaman daratan. Zonasi di hutan mangrove mencerminkan tanggapan ekofisiologis tumbuhan mangrove terhadap gradasi lingkungan. Zonasi yang terbentuk bisa berupa zonasi yang sederhana (satu zonasi, zonasi campuran) dan zonasi yang kompleks (beberapa zonasi) tergantung pada kondisi lingkungan mangrove yang bersangkutan. Beberapa faktor lingkungan yang penting dalam mengontrol zonasi adalah :

  • Pasang surut yang secara tidak langsung mengontrol dalamnya muka air (water table) dan salinitas air dan tanah. Secara langsung arus pasang surut dapat menyebabkan kerusakan terhadap anakan.
  • Tipe tanah yang secara tidak langsung menentukan tingkat aerasi tanah, tingginya muka air dan drainase.
  • Kadar garam tanah dan air yang berkaitan dengan toleransi spesies terhadap kadar garam.
  • Cahaya yang berpengaruh terhadap pertumbuhan anakan dari species intoleran seperti Rhizophora, Avicennia dan Sonneratia.
  • Pasokan dan aliran air tawar

6. FAUNA MANGROVE

Ekosistem mangrove merupakan habitat bagi berbagai fauna, baik fauna khas mangrove maupun fauna yang berasosiasi dengan mangrove. Berbagai fauna tersebut menjadikan mangrove sebagai tempat tinggal, mencari makan, bermain atau tempat berkembang biak.

Penelitian mengenai fauna mangrove di Indonesia masih terbatas, baik di bidang kajiannya maupun lokasinya. Sampai saat ini, beberapa hasil penelitian yang telah dipublikasikan mengenai fauna yang berasosiasi khusus dengan hutan mangrove mengambil lokasi di Pulau Jawa (Teluk Jakarta, Tanjung Karawang, Segara Anakan – Cilacap, Segara Anak – Jawa Timur, Pulau Rambut, Sulawesi (Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah, Ambon, Sumatera (Lampung, Sumatera Selatan, dan Sumatera Utara), dan Kalimantan Barat.

Fauna mangrove hampir mewakili semua phylum, meliputi protozoa sederhana sampai burung, reptilia dan mamalia. Secara garis besar fauna mangrove dapat dibedakan atas fauna darat (terrestrial), fauna air tawar dan fauna laut. Fauna darat, misalnya kera ekor panjang (Macaca spp.), Biawak (Varanus salvator), berbagai jenis burung, dan lain-lain. Sedangkan fauna laut didominasi oleh Mollusca dan Crustaceae. Golongan Mollusca umunya didominasi oleh Gastropoda, sedangkan golongan Crustaceae didominasi oleh Bracyura. Para peneliti melaporkan bahwa fauna laut tersebut merupakan komponen utama fauna hutan mangrove.





Fauna yang ada di Kalimantan dan sekitarnya

No

Nama Satwa Langka
Penyebaran di Indonesia
Foto
1. Gajah
Elephans maximus
Sumatera dan Kalimantan Timur, (Kutai)
2.

BERUANG MADU
Helarctos malayanus

Sumatera dan Kalimantan
3.

LANDAK
Hystrix brachyura

Sumatera, Jawa, Bali dan Kalimantan
4.

TRENGGILING
Manis javanica

Jawa, Sumatera dan Kalimantan
5.

RUSA SAMBAR
Cervus unicolor

Sumatera, Kalimantan, Pulau Bangka, Belitung, Siberut, Sipora, Nias, Pulau Laut, Banguey, Blambangan.
6.

KANCIL
Tragulus javanicus

Jawa,Sumatera, Kalimantan, Kepulauan Singkep.P.Penebangan, P.Labuan, P. Laut
7.

KIJANG
Muntiacus muntjac

Sumut, Jawa, Kalimantan, Bangka, Belitung, Sumbar, Bali, Lombok, P. Bintan, Riau, Lingga dan Nias

8.

MACAN DAHAN
Neofelis nebulosa

Sumatera dan Kalimantan

9.

LUWAK
Felis marmorata

Sumatera dan Kalimantan


10.
KUCING HUTAN-MEONG CONGKOK
Felis bengalensis
Sumatera, Jawa, Bali dan Kalimantan



11. UNGKO
Hylobates agilis
Sumatera, Kalimantan Tengah, dan kalimantan Selatan


12. MALU-MALU
Nycticebus coucang
Sumatera, Jawa dan Kalimantan

13. MUSANG CONGKOK
Prionodon lingsang
Sumatera, Jawa dan Kalimantan

14. BINTURUNG
Arctictis binturong
Sumatera, Pulau Nias, Pulau Bintan, Pulau Bangka, Kepulauan Riau, Kalimantan dan Jawa

15. BAJING TANAH/TUPAI TANAH
Lariscus insignis
Sumatera,Kepulauan mentawai, Anambas, Kalimantan, Jawa, Nusa Kambangan

16. BAJING TANAH BERGARIS EMPAT Lariscus hosei Kalimantan Utara, Kalimantan Barat laut, Sumatera, Jawa dan Bali




Letak Kabupaten Sintang, Propinsi Kalimantan Barat dan Kabupaten Kotawaringin Timur Propinsi Kalimantan Tengah




Topografi

Kawasan hutan Taman Nasional Bukit Baka-Bukit Raya didominir oleh puncak-puncak pegunungan Schwaner. Keberadaan pegunungan tersebut merupakan perwakilan dari tipe ekosistem hutan hujan tropika pegunungan dengan kelembaban relatif tinggi (86%). Temperatur udara 20° - 32° C, curah hujan Rata-rata 3.400 mm/tahun, ketinggian tempat 150 – 2.278 m dpl.

Ekosistem, Flora dan Fauna

Tercatat 817 jenis tumbuhan yang termasuk dalam 139 famili seperti Dipterocarpaceae, Myrtaceae, Sapotaceae, Euphorbiaceae, Lauraceae dan Ericadeae. Disamping terdapat tumbuhan untuk obat-obatan, kerajinan tangan, perkakas/bangunan, konsumsi dan berbagai jenis anggrek hutan, juga terdapat bunga Rafflesia (Rafllesia sp.) yang merupakan bunga parasit raksasa serta diduga memiliki persamaan dengan jenis yang ditemukan di Gunung Kinibalu Malaysia. Satwa mamalia yang dapat dijumpai antara lain macan dahan (Neofelis nebulosa), orangutan (Pongo pygmaeus), beruang madu (Helarctos malayanus), owa kalimantan (Hylobates muellleri) dan lutung merah (Presbytis rubicunda). Dari jenis aves antara lain enggang gading (Rhinoplax vigil), rangkok badak (Buceros rhinoceros), enggang hitam (Anthracoceros malayanus), kuau kerdil kalimantan (Polyplevtron schleiermacher), dan ruai (Argusianus argus). Terdapat dua jenis burung yang termasuk dalam “New Record” di Indonesia yaitu punai imbuk (Chalcohap indica) dan uncal merah (Macropygia phaseanella). Untuk jenis amphibia dan reptilia yang merupakan jenis unik dan langka seperti katak bertanduk (Megophyrs nasuta), biawak hijau (Varanus prasinus), dan bengkarung (Mabuya sp.). Dari jenis insekta antara lain dari famili Lamprydae (keluing pil raksasa, dan keluing biasa), capung (sibar-sibar cincin emas, dan sibar-sibar merah), kupu-kupu sayap burung (Trogonoptera brookiana), kupu-kupu jeruk sayap panjang (Papilio xunthos), kupu-kupu sayap burung paris (Papilio paris) dan kupu-kupu jesebel (Delias sp.).

Budaya Masyarakat dan Obyek Wisata

Masyarakat asli yang berada di sekitar taman nasional merupakan keturunan dari kelompok suku Dayak Limbai, Ransa, Kenyilu, Ot Danum, Malahui, Kahoi dan Kahayan. Masyarakat suku tersebut tinggal sekeluarga di rumah panjang yang disebut Betang. Panjang rumah 186 m, lebar 6 m dan biasanya dihuni oleh 15-30 kepala keluarga. Karya-karya budaya mereka yang dapat dilihat adalah patung-patung kayu leluhur yang terbuat dari kayu belian, kerajinan rotan/bambu/ pandan dan upacara adat.
Beberapa lokasi/obyek yang menarik untuk dikunjungi :Bukit Baka. Pendakian, menyelusuri sungai dan pengamatan satwa/tumbuhan. Bukit ini mempunyai ketinggian 1.620 m dpl. Puncak bukit ini sering ditutupi kabut dengan suhu udara antara 15° - 20° C. Puncak Bukit Baka dapat ditempuh sekitar 7 jam perjalanan dari Dusun Nanga Juoi Kecamatan Manukung. Bukit Raya. Pendakian, menyelusuri sungai dan pengamatan satwa/tumbuhan. Ketinggian Bukit Raya sekitar 2.278 m dpl, suhu udara antara 7° - 10° C. Perjalanan dari dusun terdekat (Rumokoy) ke puncak bukit sekitar 3-4 hari.



















1 komentar:

lusiana syukur mengatakan...

mkasih jdi saya bisa kerjakn tgs ade saya